SEMARANG TIMUR, suaramerdeka.com - Pemutusan aliran listrik di wilayah Pandean Lamper membuat warga di bantaran Banjirkanal Timur mulai melakukan pembongkaran kios maupun hunian mereka. Warga tidak dapat menjalankan aktivitas harian, akibat aliran listrik diputus. Relokasi bagi warga setempat telah disediakan di Pasar Klitikan Barito Baru di Penggaron, Pasar MAJT tahap dua, dan Pasar Suryokusumo.
Pemutusan aliran listrik dilakukan setelah sebelumnya ada sosialisasi dari Dinas Perdagangan Kota Semarang terkait hal tersebut. Sosialisasi berupa pemutusan listrik sekaligus awal pembongkaran pada Rabu (11/4). Adapun batas akhir pembongkaran pada Senin (16/4). Data awal dari Dinas Perdagangan Kota Semarang, jumlah Pedagang Kaki Lima (PKL) dan hunian di Pandean Lamper ada 170 unit. Namun jumlah tersebut di lapangan ternyata membengkak menjadi 228 unit.
''Sosialisasi telah kami lakukan tiga minggu sebelumnya. Pemadaman dilakukan mulai dari ujung Jalan Unta Raya hingga perbatasan dengan Kelurahan Sambirejo. Warga ternyata banyak yang mulai bongkar secara swadaya. Bagi yang tidak sanggup maka kami bantu bongkar dengan alat berat,'' ujar Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Fajar Purwoto, di sela-sela kegiatan pembongkaran, Rabu (11/4).
Fajar berharap target penjadwalan pembongkaran diharapkan dapat terpenuhi, agar percepatan normalisasi Banjirkanal Timur dapat terlaksana. Proses pembongkaran menyisakan tiga kelurahan yaitu Kelurahan Karangtempel, Kelurahan Bugangan, dan Kelurahan Mlatiharjo.
''Kelurahan Karangtempel kami prioritaskan setelah lebaran karena pembangunan selter di Penggaron belum selesai. Kelurahan Mlatiharjo diundur, relokasi di Pasar Banjardowo yang sedianya ditempati pedagang ternyata digunakan untuk menaruh tanah urukan polder Genuk. Sementara Kelurahan Bugangan, masih kami rapatkan kembali,'' kata dia.
Fajar menyatakan, masih ada 60 warga di Pandean Lamper yang memilih pindah ke Rusunawa namun belum mendapatkan tempat. Dia berharap proses pembongkaran dan relokasi maksimal dapat selesai secara keseluruhan sebelum puasa.
''Kami berusaha menjaga perasaan dari warga di bantaran Banjirkanal Timur. Untungnya tidak ada masalah yang berarti. Warga tetap merasa nyaman, walaupun ada beberapa yang menggerutu. Kami anggap itu hal biasa,'' terang dia.
Salah satu warga hunian di Pandean Lamper yang belum melakukan pembongkaran, Huda (45), mengaku, ia telah mendapatkan tempat tinggal pengganti di Mranggen. Hanya saja bangunan miliknya baru saja selesai dibangun. Untuk itu ia minta tenggat waktu lebih, agar bisa membongkar sebelum batas akhir.
''Kami belum bongkar karena angkot yang akan mengangkut barang-barang, baru bisa tersedia Minggu (15/4). Tapi kami pastikan sebelum batas akhir, barang-barang sudah kami pindahkan semua. Untuk sementara kami terpaksa tinggal di sini walaupun listrik telah dipadamkan,'' kata dia.
(Muhammad Arif Prayoga /SMNetwork /CN19 )
http://www.suaramerdeka.com/news/detail/22811/Listrik-Diputus-Warga-Mulai-Bongkar-HunianBagikan Berita Ini
0 Response to "Listrik Diputus, Warga Mulai Bongkar Hunian"
Post a Comment