BANYUBIRU, suaramerdeka.com- Luas danau Rawapening selama 15 tahun terakhir mengalami penyusutan dari semula 2.670 hektar menjadi 1.850 hektar. Jika dihitung penyusutan itu mencapai 820 hektar.
Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Sumber Daya Air, dan Penataan Ruang Provinsi Jawa Tengah Prasetyo Budie Yuwono saat membacakan sambutan Plt Gubernur Jateng Heru Sudjatmoko dalam acara puncak peringatan Hari Air Dunia 2018 yang dipusatkan di Rawapening, Sabtu (7/4).
"Melalui pemantauan dari citra satelit, luasnya danau Rawapening berkurang dari semula 2.670 hektar menjadi 1.850 hektar," katanya.
Ditambahkan dia, faktor-faktor yang ditengarai menjadi penyebab degradasi lingkungan serta penyusutan luas danau itu di antaranya terjadi perubahan tata guna lahan pada hulu daerah tangkapan air serta pada badan danau sendiri. Jumlah dan luasan tanaman gulma seperti eceng gondok yang meningkat telah hampir menutupi 47 persen luasan danau (hasil pengukuran 2016). Sehingga mengakibatkan degradasi lingkungan danau Rawapening.
"Tidak hanya itu, sedimen dan pencemaran akibat aktivitas yang terjadi pada daerah tangkapan air area danau, limbah penduduk, limbah ternak, dan limbah budidaya ikan dari 600 keramba ikan, juga memperburuk kondisi lingkungan danau Rawapening," tandasnya.
Padahal, lanjut dia, Rawapening ini menyimpan potensi luar biasa tidak hanya untuk sumber air bersih (250liter/detik), tetapi juga untuk irigasi (19.000 hektar), pembangkit energi seperti hidropower, PLTA Jelok-Timo 25 megawatt, pariwisata, perikanan air tawar, serta pengendalian banjir.
"Mengingat potensi yang luar biasa ini, Pemprov Jateng telah melakukan berbagai upaya penyelamatan seperti rehabilitasi lahan pada daerah tangkapan air area waduk. Juga melalui reboisasi penghijauan pada lahan terbuka yang sebelumnya untuk budidaya pertanian," ucapnya.
Upaya lainnya, kata Prasetyo, yaitu pengendalian sedimentasi, berupa pembuatan bangunan sumur resapan, pembuatan dam dan cek dam, pengerukan danau. Selain itu juga pembuatan tanggul pembatas badan air danau, pengendalian gulma air dengan pembersihan eceng gondok secara rutin, serta penetapan zona sempadan danau.
"Selain itu pembinaan dan pendampingan kepada masyarakat di lingkungan danau juga kita lakukan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam merawat dan menjaga fungsi danau tersebut. Berbagai upaya untuk memulihkan kapasitas dan fungsi danau pun telah dilakukan sejak lama. Namun dirasakan progresnya masih lambat. Untuk itu perlu dilakukan langkah-langkah strategis guna mensinergikan berbagai program penyelamatan danau Rawapening secara efektif dan optimal," tuturnya.
Berbagai permasalahan yang ada di danau Rawapening ini menurut Prasetyo harus dikeroyok ramai-ramai sehingga danau ini bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat. Ia berharap pelaksanaan puncak peringatan hari Air Dunia ini bisa menjadi momentum bagi kita semua untuk menyatukan langkah dan bersinergi dalam rangka penyelamatan Rawapening ini.
"Tidak hanya pemerintah pusat, dan pemerintah daerah, tetapi seluruh elemen masyarakat yang ada harus bergerak bersama menyelamatkan Rawapening dan mengembalikan fungsinya seperti sedia kala," ungkapnya.
Acara itu juga dihadiri Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PUPR Imam Santoso. Imam menyatakan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mentargetkan dalam setahun ke depan, Rawapening di Kabupaten Semarang akan bersih dari eceng gondok. Saat ini disiapkan delapan perahu untuk membersihkan tanaman gulma ini agar nantinya menjadi bersih dan bisa menjadi daya tarik wisata.
(Moch Kundori /SMNetwork /CN39 )
http://www.suaramerdeka.com/news/detail/22453/15-Tahun-Terakhir-Luas-Rawapening-Berkurang-820-HektarBagikan Berita Ini
0 Response to "15 Tahun Terakhir, Luas Rawapening Berkurang 820 Hektar"
Post a Comment