SEMARANG, suaramerdeka.com - MENJADI Anggota Polri tidak harus mengeluarkan biaya mahal atau lewat jalur belakang seperti rumor yang masih terus beredar di tengah masyarakat. Hal tersebut dibuktikan Rumaniyah (19), warga asal Desa Trangkil, Kedungwuni, Pekalongan.
HANYA Dengan uang pas-pasan untuk biaya transportasi menuju tempat pendaftaran dan seleksi, putri keenam dari tujuh bersaudara pasangan Kliwon (58), dan Miskiyah (53), bisa lulus seleksi dan menjadi anggota polisi wanita (Polwan).
Dia resmi dilantik sebagai Bintara Polwan dengan pangkat Brigadir Dua (Bripda) pada 6 Maret 2018 lalu, dan sekarang ditempatkan di Divisi TIK Mabes Polri.
Rumaniyah tidak dapat menahan air matanya saat bercerita tentang biaya. Sejak awal mendaftar ia hanya membawa bekal secukupnya.
Itu pun dari uang yang seharusnya digunakan orangtuanya untuk membayar utang. Belum lagi sedikit tambahan dari adiknya yang bekerja sebagai tukang jahit.
"Sejak kecil hendak membahagiakan orangtua. Sangat bersyukur karena dapat diterima menjadi anggota polisi. Apalagi kami ini dari keluarga besar yang tinggal di rumah kecil. Ayah saya hanya seorang buruh tani yang tidak punya sawah sepetak pun," ujar Rumaniyah saat ditemui di sela-sela Rakernis Biro SDM Polda Jateng di Wisma Perdamaian, Kamis (14/3).
Kisahnya dimulai saat ia lulus dari SMK Jawa Tengah pada 2017 lalu. Awalnya ia berusaha mencari pekerjaan dengan memasukkan lamaran ke sejumlah tempat kerja.
Hingga pada akhirnya nasib membawanya pada seleksi penerimaan bintara polisi yang digelar Polda Jateng pada 2017.
"Setelah lulus SMK, langsung mau cari kerja. Terus ada penerimaan Bintara Polisi dan saya mendaftar polisi. Semua saya siapkan sendiri dengan minta bantuan guru saya untuk mengajari pengetahuan umum dan pengetahuan tentang teknologi informasi karena saya mau daftar Bintara TIK," terang Bintara kelahiran 10 Agustus 1998 itu.
Rumaniyah kemudian berangkat mendaftar dan mengikuti rangkaian tahapan seleksi seorang diri, tanpa didampingi orangtuanya.
Meski demikian saat seleksi itu Rumaniyah dipertemukan dengan banyak calon Bintara yang kemudian dekat dengannya. Rata-rata calon Bintara lain mendaftar dengan didampingi orangtuanya.
"Saat seleksi, saya banyak dipertemukan dengan orang berhati malaikat seperti teman saya dan lainnya. Mereka sangat baik walaupun baru kenal dan tidak membedakan, meski saya dari keluarga tidak mampu. Akhirnya saya bisa lolos semua seleksi. Itu sekali mencoba saja," paparnya.
Kisah harunya tidak hanya sampai di situ. Saat akan pelantikan sebagai Bripda, kedua orang tuanya sempat tidak akan datag karena keterbatas biaya.
Namun, Kepala Sekolah Polisis Negara (SPN) dan Wakil Kepala SPN, memberikan bantuan agar orantuanya bisa hadir.
''Kalau untuk biaya selama pendaftaran dan pendidikan, itu dari uang yang sebenarnya mau digunakan untuk membayar hutang. Adik saya yang putus sekolah juga memberi tambahan," tuturnya sambil menahan tangis.
Adiknya yang bernama Anam tidak lulus SD, karena keterbatasan biaya. Anam memilih bekerja sebagai tukang jahit untuk membantu keluarga.
Anam juga yang sering membantu Rumaniyah dengan memberi uang. ''Saya justru terlihat seperti adiknya daripada kakaknya," sambungnya.
Sementara itu Kliwon, ayah Rumaniyah, tidak henti-hentinya mengucap syukur. Ia bahkan masih belum percaya salah satu anaknya kini menjadi seorang anggota polisi.
"Saya tidak mengira anak saya masuk polisi. Senang anak saya sudah jadi polwan karena saya tidak punya apa-apa. Kerja saya hanya buruh tani dengan bayaran Rp 60 ribu per hari," ungkap Kliwon didampingi istrinya, Miskiyah.
Apa yang dialami oleh Rumaniyah menjadi contoh nyata kalau masuk polisi tidak diperlukan biaya sedikit pun.
Hal itu diungkapkan Asisten SDM Kapolri, Irjen Pol Arief Sulistyanto, dan Kapolda Jateng Irjen Pol Condro Kirono, usai memberikan arahan dalam Rakernis SDM Polda Jateng di Wisma Perdamaian, Kamis (4/3).
"Rumaniyah dan orangtuanya yang buruh tani menjadi contoh. Ia menjadi polwan dengan susah payah, tanpa biaya sedikitpun. Bahkan untuk berangkat ke Jakarta saja orangtua tidak bisa mengantar. Ini bukti kalau siapa pun bisa menjadi anggota Polri jika mempunyai kemampuan," ungkap Irjen Pol Arief Sulistyanto.
Adapun Kapolda Jateng Irjen Pol Condro Kirono menegaskan bahwa biaya untuk menjadi polisi itu tidak ada. Sudah ada arahan yang jelas dari Kapolri.
Jadi siapa pun yang mempunyai rumor tentang perekrutan Polri dengan menawarkan sejumlah biaya harap dilaporkan langsung ke Kapolda.
"Jangan ada rumor kalau masuk polisi bayar. Siapa dan di mana yang masuk polisi membayarkan uang atau sogokan, akan kami tindak lanjuti. Contoh nyata dari Kabupaten Pekalongan tadi, anak buruh tani tidak punya biaya tetapi bisa menjadi polisi. Semua karena persiapan dan belajar tentunya," pungkasnya.
(Erry Budi Prasetyo /SMNetwork /CN34 )
http://www.suaramerdeka.com/news/detail/19570/Anak-Buruh-Tani-Lolos-Seleksi-PolriBagikan Berita Ini
0 Response to "Anak Buruh Tani Lolos Seleksi Polri "
Post a Comment