BOYOLALI, suaramerdeka.com- Kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Desa Samiran menggelar ajang Pasar Tiban Duit Bathok di pertigaan jalan desa setempat, Minggu (18/3). Kegiatan tersebut sebagai upaya mendongkrak kegiatan wisata di kawasan lereng Merapi- Merbabu, Kecamatan Selo.
Sejak pagi, belasan pedagang sudah mangkal berderet di jalan tersebut. Aneka dagangan ditata rapi di atas meja kecil. Ada yang berjualan nasi pecel gendar, ada pula jadah khas Selo, gudangan, soto, susu segar hingga bermacam sayuran hasil kebun warga.
Nah, transaksi jual-beli tidak seperti lazimnya pasar. Pembeli tidak bisa membayar menggunakan uang rupiah. Sesuai namanya, mereka harus membayar dengan menggunakan batok atau keping tempurung kelapa. Pembeli harus menukarkan uangnya terlebih dahulu kepada pengurus Pokdarwis di mana satu keping batok dihargai Rp 2.000,-.
Jadilah, jual beli berlangsung unik. Para pembeli yang mayoritas wisatawan, membayar menggunakan keping batok kelapa tersebut. Semisal, pembeli menginginkan seporsi bakso, dia harus menyerahkan empat keping batok karena harga bakso Rp 8.000,-.
Untuk susu segar dibayar menggunakan dua keping batok. Pengunjung menikmati makanan seraya duduk di bangku panjang atau lesehan sembari melihat keindahan Merapi- Merbabu. Bahkan, pengunjung juga dimanjakan dengan pertunjukan tari tradisi.
Andalkan Alam
Panitia, Dayang Nevia mengaku gembira karena kegiatan tersebut mendapat respons positif para wisatawan. Selain itu, masyarakat setempat sangat antusias mendukung kegiatan yang digelar Pokdarwis Desa Samiran, Kecamatan Selo.
‘’Masyarakat sangat mendukung karena sadar ini juga menjadi sarana mendongkrak pengembangan pariwisata di Kecamatan Selo,’’ katanya.
Diungkapkan, wisata di lereng Merapi- Merbabu lebih mengandalkan alam.
Jadi pengunjung selain bisa melihat keindahan Gunung Merapi- Merbabu, juga kegiatan pertanian setempat. ‘’Agar berbeda, maka digelarlah Pasar Tiban seperti ini. Hanya saja, kegiatan ini belum bisa digelar setiap saat. Hanya kalau ada event khusus atau ada keinginan dari kelompok wisatawan,’’ jelasnya.
Salah satu pengunjung, Nova (40) asal Batam mengaku puas bisa menikmati pesona Merepi-Merbabu. Dia sengaja menginap di homestay agar bisa melihat pemandangan saat matahari terbit pagi hari.
‘’Luar biasa, potensi wisata di Boyolali ini bisa dikembangkan lebih luas, termasuk melalui acara Pasar Tiban ini,’’ tandasnya.
(Joko Murdowo /SMNetwork /CN40 )
http://www.suaramerdeka.com/news/detail/19880/Pasar-Tiban-Bayar-Gunakan-Batok-KelapaBagikan Berita Ini
0 Response to "Pasar Tiban, Bayar Gunakan Batok Kelapa"
Post a Comment